Menilik Optimisme Sektor Perbankan Indonesia di Kuartal II 2025: Antara Harapan dan Strategi Tangguh
Jan 13, 2026 - 02:27
Tinjauan Ekonomi Tinjauan Ekonomi dan Pasar Harian Kantor Kepala Ekonom, PT Bank Mandiri 13 Juni 2025 | Tinjauan Ekonomi Harian: Sektor Perbankan Tetap Optimis Memasuki Kuartal II 2025 Survei Orientasi Bisnis Perbankan yang dirilis OJK menunjukkan adanya sentimen positif yang kuat di kalangan pelaku perbankan untuk periode kuartal kedua tahun ini. Meskipun Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) sedikit terkoreksi ke level 59 dari 60 di kuartal sebelumnya, angkanya tetap berada dalam zona optimis. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) tercatat lebih rendah di 34. Namun, Indeks Persepsi Risiko (IPR) justru meningkat ke 58 dari 55, dan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) melonjak signifikan ke 85 dari 74. Optimisme ini berpijak pada ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan intermediasi perbankan serta keyakinan teguh terhadap kapabilitas sektor ini dalam mengelola berbagai risiko yang mungkin timbul. Manajemen risiko perbankan menunjukkan ketahanan yang terjaga dan terkendali sepanjang Kuartal II 2025. Peningkatan Indeks Persepsi Risiko (IPR) menjadi 58 (dari sebelumnya 55) mencerminkan kewaspadaan yang semakin kuat. Seiring dengan ekspansi penyaluran kredit, perbankan secara aktif memperketat pemantauan dan pengelolaan risiko kredit, dengan proyeksi bahwa rasio kredit bermasalah (NPL) akan menunjukkan perbaikan di periode ini. Prospek kinerja perbankan terus diselimuti optimisme, yang tercermin dari kenaikan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) seiring dengan proyeksi peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit. IEK melesat ke angka 85 dari 74 pada periode sebelumnya. Pertumbuhan penghimpunan dana diperkirakan akan lebih solid, didorong oleh peningkatan deposito meskipun suku bunga DPK diprediksi stabil, bahkan di tengah potensi penurunan BI-Rate. Ini selaras dengan strategi bank untuk memperbanyak dana murah guna mendukung target penyaluran kredit, didukung pula oleh perkiraan peningkatan permintaan kredit. Menatap ke depan, sektor perbankan nasional tidak lepas dari bayang-bayang ketidakpastian global, termasuk potensi tekanan likuiditas dan volatilitas di pasar keuangan. Kendati demikian, perbankan di Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga ketahanan dan meningkatkan profitabilitas melalui implementasi strategi yang terarah. Penyaluran kredit harus dilakukan dengan lebih cermat dan selektif, memprioritaskan sektor-sektor yang terbukti tangguh dan memiliki daya tahan tinggi. Ini termasuk sektor hilirisasi seperti nikel, bauksit, dan tembaga, serta sektor telekomunikasi dan layanan kesehatan. Sektor-sektor ini dikenal memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan akselerasi pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, penguatan strategi pendanaan memegang peranan krusial dalam menjaga efisiensi operasional. Optimalisasi komposisi dana murah (CASA – Current Account Savings Account) menjadi sangat vital untuk menekan biaya dana (cost of fund). Strategi ini secara langsung akan berkontribusi pada terjaganya margin bunga bersih (NIM), yang merupakan salah satu tonggak utama dalam memastikan keberlanjutan profitabilitas perbankan. (yrp) Untuk informasi yang lebih lengkap, Report tersebut dapat Bapak/Ibu unduh pada website kami melalui link berikut ini:
Tagged :
BMRI